Translate

Selamat Membaca Goresan penaku sahabat-sahabatku.

Hakikat Bahasa Berdasarkan psikolinguistik




Hakikat Bahasa

Semua orang mempunyai dan menggunakan bahasa. Berbahasa adalah suatu kegiatan yang kita lakukan selama kita bangun, bahkan juga kadang-kadang waktu tidur atau mimpi, sehingga kita menganggap berbahasa itu sebagai sesuatu yang normal, bahkan alamiah seperti bernapas, dan kita tidak memikirkannya.Yang paling membedakan kita dengan mahluk lainnya adalah bahwa kita mempunyai bahasa.

Dari beberapa buku linguistik akan kita jumpai berbagai rumusan mengenai hakikat bahasa. Rumusan-rumusan itu kalau dibutiri akan menghasilkan beberapa ciri yang merupakan hakikat bahasa. Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa itu antara lain :

a. bahasa itu sebuah sistem lambang
b. bahasa berupa bunyi
c. bahasa bersifat arbitrer
d. bahasa itu produktif
e. bahasa itu dinamis, beragam, dan manusiawi.

Ciri-ciri bahasa yang disebutkan di atas, yang menjadi indikator akan hakikat bahasa adalah menurut pandangan linguistic umum (general linguistics). Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interkasi social dan sebagai alat mengidentifikasikan diri.

Adanya bahasa membuat kita menjadi mahluk yang bermasyarakat (atau mahluk sosial). Kemasyarakatan kita tercipta dengan bahasa, dibina dan dikembangkandengan bahasa; Lindgren (1972) menyebut bahasa itu sebagai “perekat masyarakat”. Broom & Selznik (1973: 94) menyebutnya sebagai “faktor penentu dalam penciptaan masyarakat manusia”.

Ciri-ciri Bahasa Manusia

1. Jalur vocal-auditif (Vocal-auditory channel). Banyak hewan yang memiliki sistem komunikasi yang dapat didengar seperti: jengkerik, katak, dan burung; tetapi tidak semua merupakan bunyi vokal. Meskipun katak, burung, dan orangutan mempunyai ciri ini, tetapi tidak memenuhi ciri-ciri 15 lainnya.
2. Penyiaran ke semua jurusan, tetapi penerimaan yang terarah. Isyarat bahasa yang diucapkan itu dapat didengar di semua jurusan atau arah, karena suara berjalan melalui media udara. Memang penyiaran dengan arah sempit (seperti cahaya lampu senter) jarang sekali ada pada hewan, tetapi terdapat juga pada beberapa ikan laut. Penerimaan yang terarah adalah akibat pendengaran dengan dua telinga, sehingga koordinasi pendengaran kedua telinga menghasilkan pendengaran yang dapat mengetahui dengan tepat dari arah mana datang isyarat bunyi.
3. Cepat hilang. Semua isyarat bahasa yang berbentuk suara itu cepat hilang. Ini berlainan dengan, umpamanya, bekas tapak kaki, yang menunjukkan apa ada orang atau hewan yang lewat dari suatu tempat. Oleh karena ciri kecepatan hilang suara itu, maka sejak beberapa ribu tahun; terutama sejak kira-kira 400 tahun yang lalu sampai kini, manusia melestarikan isyarat dan pesan bahasanya dengan tulisan.
4. Dapat saling berganti. Semua manusia dewasa dapat bertindak sebagai penyiar dan penerima isyarat-isyarat bahasa; artinya dia bisa menjadi pembicara dan juga menjadi pendengar. Ada semacam jengkerik yang hanya jantannya yang mampu mengeluarkan bunyi, tetapi baik jantan maupun betinanya dapat mendengar dan mengertinya.
5. Umpan balik yang lengkap. Penyiar isyarat bahasa itu sendiri juga menerima isyaratnya. Dalam beberapa macam komunikasi kinetic (gerakan) dan visual (penglihatan), seperti dalam “tari berpacaran” semacam ikan, penyiar isyarat itu tidak dapat melihat bagian-bagian penting dari komunikasi tarinya.
6. Spesialisasi. Ini berarti bahwa besar daya biologis isyarat bahasa itu adalah amat besar. Tenaga yang digunakan seorang penutur untuk mengucapkan: “Tolong angkatkan koper ini,” adalah amat kecil, tetapi tenaga yang dihasilkan yang dikeluarkan oleh lawan bicara itu sangat besar.
7. Kebermaknaan. Isyarat—isyarat bahasa dapat berfungsi mengatur dan mengikat kehidupan suatu masyarakat, karena ada ikatan yang teratur antara unsur-unsur bahasa dan hal-hal (benda-benda, sifat, dan hubungan) dalam dunia luar; dengan perkataan lain, unsur-unsur bahasa mempunyai makna atau merujuk pada hal-hal tertentu.
8. Kewenangan. Hubungan makna antara isyarat bahasa dengan yang dirujuk ditentukan oleh persetujuan antara penutur bahasa itu, bukan oleh adanya hubungan materi antara unsur bahasa dan rujukan itu.
9. Keterpisahan. Ini berarti bahwa setiap isyarat (kata) bahasa secara jelas lain. Umpamanya, kata “kali” /kali/ dan kata “gali”/gali/, yang secara fonetik hanya berbeda dalam ada atau tidaknya “suara”, yakni getaran selaput suara dalam pelafalan bunyi pertama dari kata-kata itu.
10. Keterlepasan. Ini berarti bahwa makna atau pesan sesuatu isyarat bahasa bisa merujuk kepada sesuatu hal yang jauh dalam jarak dan/atau waktu dari tempat orang berbahasa itu. Jadi, kita dapat berbicara tentang sesuatu yang ada ditempat lain; bahkan yang ada hanya dalam khayal, umpamanya:”Utopia”. Demikian juga tentang sesuatu yang akan terjadi dimasa depan, waktu yang silam, dan waktu yang sekarang.
11. Keterbukaan. Ini berarti isyarat-isyarat baru dapat dibuat sesuai keperluan manusia. Sistem komunikasi lebah juga mempunyai ciri ini, sebab tergantung pada arah dan jauhnya sari bunga yang baru ditemuinya. Tetapi teriakan gibbon adalah sistem tertutup, sebab hanya terdapat dalam “kamus gibbon” yang sudah diwarisinya, dan tidak dapat ditambah lagi.
12. Pembelajaran. Ini berarti bahwa aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan bahasa manusia diwariskan melalui kegiatan belajar dan mengajar, dan bukan melalui gen-gen yang dibawa sejak lahir. Namun, gen-gen itu memberikan kesanggupan dan keinginan berbahasa. Akhir-akhir ini makin lama makin banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa yang diwarisi itu bukan hanya “kesanggupan” secara umum, akan tetapi juga suatu kesanggupan yang sudah mempunyai pola dan aturan dasar tertentu.
13. Dualitas struktur. Ini berarti bahasa mempunyai subsistem yang terdiri dari unsure-unsur yang tidak bermakna (tetpai yang membedakan makna), dan unsure-unsur yang bermakna. Yang pertama ialah subsistem fonologi, dan yang kedua ialah subsistem struktur leksis, dan morfologi. Jumlah unsure dalam subsistem fonologi terbatas, tetapi jumlah unsure dalam subsistem struktur-leksikal tidak terbatas dan selalu bertambah.
14. Benar atau tidak. Hockett menyebut ini ciri prevarication, yang berarti bahwa sesuatu pesan linguistic dapat tidak benar, dan dapat juga tidak bermakna secara logika.
15. Refleksivitas. Ini berarti bahwa bahasa dapat kita gunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Dari semua sistem komunikasi yang kita kenal, hanya bahasa manusialah yang dapat digunakan untuk berkomunikasi yang kita kenal, hanya bahasa manusialah yang dapat digunakan untuk berkomunikasi tentang diri sendiri, yaitu bahasa.
16. Dapat dipelajari. Ini berarti bahwa seorang penutur suatu bahasa dapat mempelajari bahasa lain. Ini berhubungan dengan ciri, yaitu pembelajaran, dan kesemestaan kesanggupan yang dibawa lahir.

Kesanggupan Berbahasa

Ciri-ciri bahasa sebagai sistem komunikasi, dan melihat ada tidaknya ciri-ciri itu dalam sistem komunikasi, dan melihat ada tidaknya ciri-ciri itu dalam sistem komunikasi makhluk lain. Corak penelitian-penelitian yang lain dilakukan para ahli psikolinguistikuntuk membuktikan bahasa sebagai sifat yang hakiki dan unik bagi manusia, ialah dengan eksperimen-eksperimen mengajarkan suatu bahasa atau suatu sistem komunikasi.

Hingga tahun 1965 ada lebuh dari 5 percobaan dilakukan untuk mengajar seekor simpanse berbahasa. Dalam dalam beberapa eksperimen, simpanse itu dibesarkan di rumah sebagai seorang anak manusia. Segala upaya di kerjakan dan berbagai situasi disediakan untukl mengajar simpanse itu berbahasa. Akan tetapi semua percobaan itu tidak berhasil.

Belakangan ini, Gardner ( 1971-1974) mencoba pendekatan lain untuk meneliti kesanggupan berbahasa. Mereka dan kawan-kawannya meneliti kesanggupan manusia untuk memakai suatu sistem komunikasi dengan gerakan.

Daftar Pustaka

ΓΌ Utari, Sri.1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Category Article ,

What's on Your Mind...

Total Tayangan Laman