Translate

Selamat Membaca Goresan penaku sahabat-sahabatku.

Bahasa dan Masyarakat

A. Bahasa dan Tutur

Ferdinand de Saussure membedakan antara ketiga istilah Prancis yakni langage, langue, dan parole. Ketiga istilah ini lazim dipadankan dengan kata bahasa dalam bahasa Indonesia. Padahal ketiga istilah ini mempunyai pengertian yang sangat berbeda meskipun ketiganya bersangkutan dengan bahasa. Berikut ketiga istilah Prancis yang ditinjau dari segi artinya dalam bahasa Prancis.

· Langage digunakan untuk menyebut bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal dengan sesamanya. Sifatnya abstrak. Contoh penerapannya dalam kalimat “manusia memiliki bahasa, binatang tidak”. Dalam hal ini, langage berarti tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu, melainkan mengacu pada bahasa secara umumnya yakni sebagai alat komunikasi. Binatang juga melakukan alat komunikasi, tetapi alat yang digunakan bukan bahasa.

· Langue berarti sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Sifatnya juga abstrak. Contoh penerapannya dalam kalimat “Mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia belajar bahasa Indonesia, sedangkan mahasiswa jurusan Bahasa Inggris belajar bahasa Inggris”.

· Parole merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya. Sifatnya konkret, dapat diamati secara empiris karena berbentuk ujaran. Contoh penerapannya dalam kalimat “Kalau beliau berbicara bahasanya penuh dengan kata seandainya dan akhiran ken”.

Perlu dicatat bahwa yang menjadi objek studi linguistik adalah langue sebagai suatu sistem bahasa tertentu tapi dilakukan melalui parole.

Sebagai langage, bahasa bersifat universal. Sebab dia adalah satu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia pada umumnya, bukan manusia pada suatu tempat atau suatu masa tertentu. Tetapi sebagai langue, meski bahasa memiliki ciri-ciri keuniversalannya namun bersifat terbatas pada satu masyarakat tertentu. Kesimpulannya, secara linguistik dapat disimpulkan bahwa setiap bahasa sebagai langue dapat terdiri dari sejumlah dialek, dan setiap dialek terdiri dari sejumlah idiolek.

B. Verbal Repertoire

Verbal repertoir sebenarnya ada dua macam yaitu yang dimiliki setiap penutur secara individual, dan yang merupakan milik masyarakat tutur secara keseluruhan. Yang pertama mengacu pada alat-alat verbal yang dikuasai oleh seorang penutur, termasuk kemampuan untuk memilih norma-norma sosial bahasa sesuai dengan situasi dan fungsinya. Yang kedua mengacu pada keseluruhan alat-alat verbal yang ada di dalam suatu masyarakat, beserta dengan norma-norma untuk memilih variasi yang sesuai dengan konteks sosialnya.

Kajian yang mempelajari penggunaan bahasa sebagai sistem interaksi verbal di antara para penuturnya di dalam masyarakat disebut sosiolinguistik interaksional atau sosiolinguistik mikro. Sedangkan kajian mengenai penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan adanya ciri-ciri linguistik di dalam masyarakat disebut sosiolinguistik korelasional atau sosiolinguistik makro. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling bergnatung. Maksudnya, verbal repertoir setiap penutur ditentukan oleh masyarakat di mana ‘dia berada’. Sedangkan verbal repertoir suatu masyarakat tutur terjadi dari himpunan verbal repertoir semua penutur di dalam masyarakat itu.

C. Masyarakat Tutur

Kalau suatu kelompok orang atau suatu kelompok masyarakat mempunyai verbal repertoir yang relatif sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu, maka dapat dikatakan bahwa kelompok orang itu atau masyarakat itu adalah sebuah masyarakat tutur.

Masyarakat tutur bukanlah hanya sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan sekelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa. Satu hal lagi yang patut diketahui, untuk dapat disebut satu masyarakat tutur adalah adanya perasaan di antara para penuturnya, bahwa mereka merasa menggunakan tutur yang sama.

Fishman (1976: 28) menyebut “masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidak-tidaknya mengenal suatu variasi bahasa beserta norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya”.

Kata masyarakat dalam istilah masyarakat tutur bersifat relatif, dapat menyangkut masyarakat yang sangat luas, dan dapat pula hanya menyangkut sekelompok kecil orang. Hal ini bisa kita lihat contoh konkret sebuah masyarakat tutur yang terbentuk karena mengalami kesamaan tempat atau daerah, profesi, hobi, dan sebagainya, yang menggunakan bentuk bahasa yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa itu. Begitu juga masyarakat tutur dalam ranah-ranah sosial seperti ibu rumah tangga, pemerintahan, keagamaan, dan sebagainya.

Seperti di dalam sebuah situasi berikut. Sekumpulan mahasiswa yang berasal dari berbagai suku, daerah dan berbagai bahasa daerah yang berlainan, berada dalam kelas yang sama, mereka sesama rekan menggunakan bahasa Indonesia untuk saling berinteraksi. Jadi, meskipun mereka berbahasa ibu yang berbeda, mereka adalah pendukung masyarakat tutur bahasa Indonesia.

Dilihat dari sempit dan luas verbal repertoirnya, dapat dibedakan adanya dua macam masyarakat tutur, yaitu (1) masyarakat tutur yang repertoir pemakaiannya lebih luas, dan menunjukkan verbal repertoir setiap penutur lebih luas pula; dan (2) masyarakat tutur yang sebagian anggotanya mempunyai pengalaman sehari-hari dan aspirasi hidup yang sama, dan menunjukkan pemilikan wilayah linguistik yang lebih sempit, termasuk juga perbedaan variasinya.

Kedua jenis masyarakat tutur ini terdapat baik dalam masyarakat yang termasuk kecil dan tradisional maupun masyarakat besar dan modern.

D. Bahasa dan Tingkatan Sosial Masyarakat

Untuk mengetahui korelasi antara bahasa dan tingkatan sosial masyarakat, perlu adanya pengetahuan awal mengenai definisi tingkatan sosial dalam masyarakat itu. Adanya tingkatan sosial di dalam masyarakat dapat dilihat dari dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki.

1. Segi kebangsawanan.

Mengenai segi kebangsawanan ini, kita ambil contoh masyarakat tutur bahasa Jawa. Kuntjaraningrat (1967: 245) membagi masyarakat Jawa atas empat tingkat, yaitu (1) wong cilik, (2) wong sudagar, (3) priyayi, (4) ndara. Berdasarkan tingkat-tingkat inilah dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai variasi bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat sosialnya. Jadi, bahasa yang digunakan di kalangan wong cilik tidak sama dengan wong sudagar, dan lain pula yang digunakan di kalangan para priyayi.

Namun, dalam masyarakat kota besar yang heterogen dan multietnis, tingkat status sosial berdasarkan derajat kebangsawanan mungkin sudah tidak ada; atau walaupun ada sudah tidak dominan lagi.

2. Segi kedudukan sosial dan ekonomi

Dalam masyarakat ibu kota Jakarta ada dikenal istilah golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah adalah relatif, agak sukar ditentukan; tetapi kalau dilihat golongan sosial ekonominya, maka anggota ketiga golongan itu bisa diidentifikasi.

Lalu permasalahan hubungan antara kelas-kelas golongan sosial ekonomi dengan penggunaan bahasa bisa dilihat dari hasil penelitian C.R.J. Ross (1956), Trudgilll (1974), William Labov yang masing-masing menemukan adanya perbedaan ucapan, perbedaan tata bahasa, dan pilihan kata dari ragam bahasa Inggris lapisan atas dan bukan lapisan atas; perbedaan kelompok lapisan masyarakat yang menggunakan bentuk tanpa /s/ untuk yang sebenarnya menggunakan /s/; juga perbedaan pengucapan fonem frikatif <th> dan fonem /r/ dalam beberapa kelompok sosial ekonomi masyarakat New York.

Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa ada korelasi antara tingkat sosial di dalam masyarakat dengan ragam bahasa yang digunakan.

E. Peristiwa Tutur dan Tindak Tutur

Seperti yang telah diketahui bahwa bahasa merupakan alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Tak dipungkiri bila manusia memang dapat menggunakan alat lain untuk berkomunikasi, tetapi tampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik di antara alat-alat komunikasi lainnya. Dalam setiap komunikasi, manusia saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Maka, dalam setiap proses komunikasi ini terjadilah apa yang disebut peristiwa tutur dan tindak tutur.

a. Peristiwa Tutur

Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Menurut Dell Hymes (1972), seorang pakar sosiolinguistik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, untuk memudahkan bisa diakronimkan menjadi SPEAKING (diangkat dari Wadhaugh 1990):

S (= Setting and scene).
P (= Participants)
E (= Ends: purpose and goal)
A (= Act sequences)
K (= Key: tone or spirit of act)
I (= Instrumentalities)
N (= Norms of interaction and interpretation)
G (= Genres)

Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan. Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar atau pengirim dan penerima. Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Act sequences mengacu pada bentuk dan isi ujaran.

Adapun Key, mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan disampaikan. Instrumentalities merujuk pada jalur bahasa yang digunakan oleh partisipan. Norm of Interaction and Interpretation merujuk pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Sedangkan Genre merujuk pada jenis bentuk penyampaian.

b. Tindak Tutur

Tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif oleh Austin (1962: 100-102) dirumuskan sebagai tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, berikut penjelasannya.

i. Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.

ii. Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Biasanya tindak tutur jenis ini berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan.

iii. Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap perilaku non-linguistik dari orang lain itu.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Saleh, Muhammad & Mahmudah. 2006. Sosiolinguistik. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.


Category Article , ,

What's on Your Mind...

Total Tayangan Laman